Senin, 09 Februari 2015

puisi ku

Patriot Sriwijaya                          
                                            Karya: Ahmad Fauzan
Ketika sang surya merekah di ufuk timur
Kokoh jiwa sang patriot tertanam dalam dan membara
Bagai ombak yang mengamuk dan berkecamuk di dalam pergulatan rasa campur aduk
Buih-buih takut membeku raut perkasa pun mengangguk
Langkah demi langkah tak gentar sedikit pun tak mundur setapak pun
Merampas ke-Esaan rakyat yang di rampok para pembabi buta
Raungan goresan pisau membelah kulit ari, bergeming di antara todongan-todongan  bahaya
Ketukan kelopak  menghapus butiran air mata tak menyarah
getaran nadi menjerit di cela-cela lalu lintas merah
Menyongsong masa ke masa dari pelitnya bangsa bajingan
Lengkingan simbol merdeka tertambat lekat di moncong asa
“mati urusan lain, menang urusan baru, kalah berarti mati, menang berarti hidup”
Teriak setiap dentingan hati dan bibir sang sultan, dengan suara menggema seluruh bumi Sriwijaya
Di tengah panggung adu ancaman tombak melawan mata peluru,
Di dalam reruntuhan daging segar terkapar pasrah , lakon-lakon tidur abadi demi tahta
Dan acungan telunjuk tanda merdeka,  tarikan nafas tersedu-sedu terlunglai lesu ia
terus bertekad kuat demi persamaan suatu derajat
tak peduli betapa merah baju di badan
hanya perjuangan untuk melestarikan kecantikan Sriwijaya
Gagap gempita sunyi kondisi menyelimuti  hari itu
Kicauan hewan buas  merintih-rintih ikut bersedih
Sriwijaya menunggu “sang patriot”  untuk kejayaan bumi  tercinta
“Sri oh Sri, kau selamat Sri”, dari penjara asing si jambret asa
Di dalam keranda padatnya organisasi kerja paksa
Seraya luka perjuangan belum lekas mengering, mahkota Sri  masih tetap terjaga
Lukisan tulang pipi dan topangan kaki yang bergoyang belum bisa melumpuhkannya,
 Sampai ketika pedang menumpul tubuh menua dan binasa, sang patriot akan tetap berjasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar